3 Mantra Menjadi Penulis Buku


By : Brili Agung (Book Writing Mentor/Authormaker)
dirangkum dan dirapihkan oleh :Usnul Fiqri

Bismillahirrahmanirrahim..
Tulisan ini disadur dari kuliah online Ikatan Alumni Akademi Trainer pada Jumat, 19 Januari 2018.

Assalamualaikum. Selamat malam teman teman semua. Izinkan saya untuk sharing sesuai tema besar kelas kita malam hari ini. Tentang 3 Mantra bagi teman teman yang ingin menjadi penulis buku walaupun sibuk sekali. Apa yang saya sampaikan disini adalah hasil riset saya selama 4 tahun ini membimbing 1870 alumni Inspirator Academy dari 0 hingga jadi bukunya. Dan juga pengalaman saya menulis 30 buku dalam 4 tahun terakhir.

Hasil riset saya dari alumni dan klien, ternyata yang ingin menjadi penulis ini ada 3 golongan.
1. Talented Person. Mereka yang punya bakat nulis dari lahir. Populasinya sekitar 10 persen. 
2. Resourceful person. Mereka jadi penulis buku tanpa menulis. Caranya? Hire co writer atau ghost writer. Populasinya 10 persen. 
3. Ready To Learn Person. Mereka yang pengen nulis, mampu nulis, tapi semangatnya naik turun. Alhasil naskahnya jalan di tempat atau ga pernah finish jadi buku. Populasinya? 80 % 

Pertanyaan pertama saya, Anda masuk mana? 3 mantra ini adalah solusi untuk masing masing golongan: 

Jika anda adalah golongan pertama, maka ini solusinya. Banyak baca buku, otomatis tangan anda akan gatal dan gerak sendiri untuk menulis. Tanpa sadar, voila buku jadi. Contoh : Andrea Hirata.  

Jika Anda golongan kedua , mantranya adalah curhat. Curhat ke siapa? Curhat ke ghostwriter atau co writer seperti saya dan Bunda Sofie. Dari curhat itu, kami ajukan penawaran profesional, maka voila buku Anda pun terbit. Contoh : Puluhan Bupati, Gubernur, Artis, dan Pengusaha yang saya sihir bukunya dari 0 hingga terbit. 

Bagaimana dengan golongan ketiga ? Apa mantranya? 

Begini. Jadi di Indonesia, banyak penulis jago. Yang rajin ngasih seminar, workshop, dll. Tapi outputnya apa? Peserta cuma panas saat acara atau paling pol seminggu setelah acara. Abis itu, conversion rate dari peserta menjadi penulis buku, angkanya rendah. Dari 100 peserta seminar, yang jadi penulis paling banyak 3 orang. Itulah kenapa saat saya buat program di Inspirator Academy, saya tidak mengarah ke seminar atau training. Inti semua program saya adalah Mentoring. 

Penulis di golongan 3 , ini butuh ditelateni. Diperhatikan setiap hari. Diingetin tiap hari. Diopeni. Oleh sosok mentor. Hingga jadi bukunya. Dan disinilah mantra saya membantu 1800-an alumni dari 0 hingga jadi penulis buku. 

Salah satu alumni sukses di grup ini ada mba @Yeni Ernani WBT 17 yang naskah hasil mentoring bersama saya tembus di Elex Media Komputindo dengan judul Growing For Fun. Monggo, langsung aja kita sesi tanya jawab ya. 

Sesi Pertanyaan #1:
1. Q: Menjadi seorang penulis kan biasanya orang yang terpelajar ya, kalau saya berpendidikan rendah, terus ga hoby baca dan nulis, apa mungkin bisa jd penulis?

A: Siapa bilang? Alumni saya paling muda itu kelas 4 SD. Dari sisi pendidikan, dia bahkan belum lulus SD. Tapi setelah ikut program saya, 2 novelnya selesai dan launching di sekolahnya.

Q: Tapi dengan latar belakang pendidikan yang rendah, dengan umur segitu, masih bisa ya?

A: Jawaban saya selalu sama. Jika ada kemauan 100 persen, pasti akan muncul ribuan jalan. Namun jika kemauannya masih setengah setengah, percayalah, yang akan muncul adalah ribuan alasan. Saya sudah menghadapi ribuan alasan dari ribuan mentee. Jadi kalau maju ke saya dengan alasan, sudah pasti akan saya mentahkan.

2. Q: Menjaga agar semangat tetap terjaga sampai akhir cerita gimana ya mas? Tapi, aku sdh umur 40, apa msh mungkin?

A: Kamu golongan keberapa? Kalau golongan ketiga, tugas menjaga semangat adalah tugas mentor. Mentor akan mengarahkan dan memberi feedback agar kamu terus terjaga "api" nya sampai naskah selesai. Oma Rosita, Ibunya Bang Wirzal Taufiq waktu ikut kelas saya usianya 60 tahun. Bukunya yang judulnya Semangkok Cinta Oma jadi best seller di Gramedia. Dia selesaikan buku itu dalam waktu 3 bulan. Usia bukan alasan dan pembenaran.

Q: Aku golongan 3 mas, sekarang punya 1 buku tapi antologi dengan beberapa penulis, kalau solo belum padahal mulai nulis sejak kelas 5 SD tapi untuk selesai belum. Pas dibaca ulang merasa garing, bosan, ujung2nya ga di lanjutkan.

A: Pasti ga punya mentor yang oke

Q: benaaaaarrrrrr

3. Q: Seperti apa mentor yang bersahabat itu, supaya bener2 melahirkan buku yang bisa dicetak oleh penerbit?

A: Kalau nyari mentor yang bersahabat, saya mundur bu. Kalau sama saya, saya ini kata mentee mentee saya itu jauh dari kata bersahabat. Galak, tuntutan tinggi, sadis, belagu, sengak dll. Tapi dari bertahun tahun pengalaman saya, metode ini yang paling sukses. Pilih mana? Mentor yang bersahabat tapi naskah ga jadi sesuai target. Atau mentor raja tega tapi naskah jadi? Your choice

Sesi Pertanyaan #2:

1. Q: Kalau Saya suka nulis mas, Tapi suka dadakan mas, pada saat saya lihat sesuatu yg pantes saya tulis buru2 saya tulis dan jadi sebuah tulisan yg singkat, gimana biar tulisan nya gak hanya dadakan dan singkat tapi benar2 bisa mantep mas?

Dan untuk hal yang mau di tulis kan apa biasa nya yang paling dominan untuk kita jadi kan Bahan nya mas?

A: Apa yang mas tulis, jadikan itu bahan baku untuk buku. Udah keren banget itu. Tinggal PR nya adalah menjahitnya dalam satu outline yang sistematis dan padu.

Q: Baik mas,akan cuba di terapkan, makasih.

2. Q: Mas brilli. Saya mau tanya. Kalo novel itu kan minimal 190an halaman. Kalo secercah kisah yang di ambil mutiara hikmahnya apakah ada syarat tertentu?

A: Pastinya mas. Tiap penerbit punya syarat minimal halaman. Termasuk untuk kumpulan cerita dan kisah.

Q: Kalo saya baca punya pak jamil itu ada buku yang isi kumpulan kisah inspiratif. Hirarchi nya per kisah, tidak secara keseluruhan.

A: Yes betul. Ketentuannya bukan berapa halaman per kisah. Tapi total halaman dari seluruh kisah. Itu yang jadi tolak ukur penerbit.

Sesi Pertanyaan #3:

1. Q: Saya sudah nulis satu buku parenting 160an lembar. Idealnya edisi parenting baiknya berapa lembar? Bukunya, Soft cover atau hard cover ya?

A: Ukuran kertasnya?

Q: A5, yang biasa kertas kuarto bagi dua.

A: 160 halaman sebenarnya udah cukup oke. Nanti mainkan di ilustrasi sama layout aja Bu.

Hard or soft cover? Sesuaikan dengan target pembacanya. Kalau middle up, jangan ragu pakai Hard Cover.

Q: Makasih mas Brili.

2. Q: Hadir. Bunda hadir. Alumni MMO 23. Kemaren dapat masukan dari bunda sofie. Alur ceritanya jadi flasback. Masih editing ulang. Mohon masukannya mas Brili.

A: Ide flashback juga bagus Bunda. Memang butuh teknik khusus. Saran saya sambil diperkaya referensinya dengan novel yang memakai alur maju mundur. Jadi feelnya bisa kerasa.

3. Q: Maaas. Saya ada problem. Saat ini udah punya ide besar utk nulis. Bahan baku nya dah ada. Dahsyat pulak. Tp mau mulai nulis malas. Yg saya lakukan adalah ngomong sendiri sambil direkam, kadang2 sangking sedihnya kisahnya, saya ngomong nya sambil nangis. Naah, masalahnya pas mau mulai nulis kok rasanya ragu. Pertanyaan : apakah dalam menulis sebuah buku ada aturan bakunya? Apa aja? Terimakasih sebelumnya.

A: Pakai mantra 3. Mentoring. Aturan menulis itu cuma 1. Lupakan semua aturan menulis. Aturan baku tidak dipakai saat menulis, tapi dipakai saat mengedit.

Q: Siaaaap!Pas ngedit apa aja aturannya?

A: Teknik dasarnya ada di sini :

http://briliagung.com/3-rumus-editing-dasar-ini-akan-membuat-tulisanmu-nikmat-dibaca/ 

Kalau yang advance sampai penerbit ga bisa nolak naskah kita, ada di mentoring.

Sesi Pertanyaan #4:

1. Q: Mas Brili. Mau nanya ada tips tertentu gak buat maksa kita itu biasa nulis untuk gol yang ke 3. Kadang udah nulis tapi masih setengah udah gak tau lagi apa yang mau di tulis.

A: Tipsnya : Find your mentor, and start mentoring . Jangan kasih kendor 🔥🔥🔥

2. Q: Mas, saya pernah ngedenger mas brilli upload video di challange AT. Njenengan bilang kalo pas nulis layar Laptop di tutup, jangan pedulikan apa yang telah kita tulis, jangan nyoba ngedit yang barusan di tulis. Bagaimana trik tersebutt di laksanakan agar lebih manjur?

A: Oh itu blind writing technique. Kuncinya satu. Kudu kuat nahan nafsu. Nafsu penasaran dengan apa yang kita tulis dan nafsu mengedit. Dan lakukan dengan ceria sekaligus enjoy. Sambil dengerin musik juga ide bagus.

3. Q: Hawa nafsyu. Edit terlalu dini itu yang sulit d kontrol

A: Saya diajari guru saya (Pak Prie GS). “Kalau kamu mau jadi penulis, tapi masih pakai singkatan baik di chat atau socmed, niatmu perlu dipertanyakan ulang.”

Sejak 2012, dimanapun saya ga pernah pakai singkatan lagi. Ga pakai singkatan aja kadang misspersepsi, apalagi memakai. Sekaligus melatih kita menulis efektif dengan kosa kata yang kaya.

Oiya, alhamdulillah 2017 saya berhasil menulis script film pertama saya. Dan sudah diangkat naskahnya menjadi web series. Mau nonton? Ini link episode 1 nya. Monggo. Siapa tau ada yang pengen jadi penulis skenario juga :

https://youtu.be/Kf8h5QnC1Xs

Insyaallah ada 5 episode. Ini project branding dari klien. Saya siapkan dari naskah film hingga proses kreatif sampai produksi. Kalau ada yang ingin dituliskan kisahnya jadi novel atau bahkan film, kontak aja. Insyaallah bisa bantu.

Sesi Pertanyaan #5:

1. Q: Oia, mas Brilli. Kalo orang yang MK Intuiting. Itukan daya hayal nya kan tinggi imajinasinya kan sangat dimainkan. Termasuk saya. Kebiasaan saya saat menulis skrip, sering muncul halusinasi yang tidak sejalan dengan apa yang sedang kita tulis. Apakah ada terapi nya mas, untk hal seperti itu?

A: Hehehehe. Itu anugerah yang ga semua orang punya. Lanjut aja, nanti diberesin saat editing.

Q : Iya mas, kalo kita bisa mengkontrol imajinasinya kan itu sangaat baik, nah kalo sulit itu yang repot. Saya ada ide seperti itu dalam calon buku saya.

A: Sekarang zamannya creative content. Bisa tulisan, atau multimedia seperti film. Jadi kalau ga belajar ke dunia itu, kita yang akan makin ketinggalan.

2. Q: Pertanyaan saya buat pemula, langkah paling buat munculin ide2 nulis apa ya. Maksudnya langkah paling awal.

A: Ide terbaik selalu muncul dari kegelisahan. Jadi, tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa yang sedang Anda gelisahkan saat ini?

Q: Mantra buat golongan ke 3, apa mas ? Selain ada mentor

A: Dari hasil riset saya yang paling efektif adalah mentoring. Kalau ada yang paling efektif, kenapa harus nyoba nyoba yang belum proven atau terbukti?

Q: itu saja?

3. A: Apalagi? Menulis itu praktik, bukan teori. Stop wishing, start writing. Yang "segitu aja" apa sudah dipraktekan?

Q: Jd harus langsung diparaktekin ya, ok trima kasih ilmunya.

A: Kalau mau lebih, ikut mentoring mas. Kalau cuma mau lebih, bisa cari di google atau toko buku. Yang ikut mentoring saya itu yang mau dan siap naskah bukunya jadi dalam sebulan. Begitu.

Hanya menambahkan ya mas. Ide kreatif akan muncul disaat kita benar benar memperhatikan tujuan menulis. Jika tujuan sudah terbayang, maka akan ada peluang sekian persen untl munculnya ide kreatif.

Satu lagi. Mumpung ada contoh kasus. Jujur, saya gagal paham dengan teman teman yang mengganti "nya" menjadi "x" . Entahlah..

Q: Dlm dunia penulis "nya" dganti "x" bener apa salah ya mohon penjelasanya

A: Kalau JS Badudu tau, dia bisa bangkit dari kuburnya dan menangis. Mengapa ada orang begitu semena mena mengganti Nya menjadi X. Masih soal ini, kalau bukan kita yang menghargai bahasa kita, lantas kepada siapa kita berharap?

Kesimpulan:
Ketika angan angan kita sedang merangkai kata demi kata untuk tersusun menjadi kalimat. Kita harus inget ada 3 golongan. Yaitu bakat penulis. Penulis (co.writer.GhostWriter) dan ingin nulis tapi banyak kendala.

Maka dari 3 golongan diatas jika di ambil rentetan garis tebal nya adalah Penulis Hebat akan lahir jika ide nya di realisasikan dalam tulisan, ada mentoring di dalam nya. Dalam proses menulis maka, nekat dengan pola idenya, setelah itu baru bisa di edit.

Bukan hanya Ide besar penentu kesuksesan. Tapi ada sisi Action yang wajib hadir disetial ide Hebat yang muncul di fikiran kita. Setiap Action pun harus di control oleh diri kita dan Mentor terbaik dalam proses yang sedang berjalan.

Semoga ide yang telah kita torehkan dengan tinta hitam di atas putih akan memberikan kebaikan kepada siapapun membaca nya. Aamiin.

Terimakasih untum team AT dan IKAAT yang memberikan kami fasilitas untuk terus belajar dan bertumbuh. Dan untuk temen2. Terimakasih sudah staytune di kulon malam ini. Pasti nya buat mas Brili Agung terimakasih sudah share kepada kami tentang dunia Penulis. Ilmu yang sangatlah  bermanfaat buat kami. InsyaAlloh akan jadi jalan menuju syurga Alloh. Aamiin.

Mohon maaf atas segala khilaf, saya sebagai Moderator undur diri. Assalamualaikum wr.wb.

Komentar